Sunday, February 22, 2015

Menikmati Karakter Paruh Musim Permainan Milan dalam Empat Pertandingan Terakhir



net-storage.tccstatic.com


Menyaksikan empat pertandingan terkini Milan boleh jadi amat menarik. Bertanding melawan Napoli, AS Roma, Real Madrid dan Sasuolo boleh jadi menggambarkan karakter permainan Milan selama hampir setengah musim. Sebelum melawan Napoli, gaya Milan boleh dibilang serupa. Mati gaya saat menghadapi pertahanan berlapis dan terlihat gagap saat harus berhadapan dengan striker lincah dan kreatif seperti Dybala.
Lini belakang Milan mulai tampil lebih berkarakter saat Mexes mulai rutin mengisi lini belakang.  Gaya Mexes yang lugas dan suka membantu penyerangan agak kurang cocok filosofi kepelatihan sebelum Inzaghi. Gaya ofensifnya ini menjadi sisi yang dieksplotasi tim lawan. Berbeda dengan gaya Allegeri dan Seedorf, pertahanan tim racikan Inzaghi lebih  dinamis. Begitu bola disapu pemain bertahan, serangan akan langsung mengalir cepat. Gaya agresif Mexes ini, sukses menjinakkan Di Natale saat Milan melawan Udinese.
Dalam NBA, gaya cepat ini mengingatkan saya pada Steve Blake, mantan pemain Lakers musim lalu.  Saat dilatih Phil Jackson dan Mike Brown, Blake yang dikenal kerap melakukan turnover karena umpan tajamnya kerap dipotong lawan, di bawah asuhan D’antoni meraih 7,6 assist per pertandingan. Rataan tersebut lebih tinggi 3,6 assist dari rataan selama kariernya mengingat dalam sistem permainan D’antoni, pemain dituntut untuk bereaksi cepat baik saat menerima umpan dan maupun saat menembakan bola sehingga lawan tidak sempat memotong umpan Blake.
Cederanya Disciglio dan Abate juga menjadi berkah tersendiri bagi Armero. Walaupun sempat nyaris membuat blunder saat melawan Napoli, kecepatan dan ketajaman umpan silangnya masih lebih bagus dari Disciglio, tidak heran umpannya memberikan satu assist bagi Bonaventura. Terlepas dari kartu merahnya saat melawan AS Roma, permainan Armero patut diacungi jempol terutama saat harus menekan pemain lawan.
Di lini tengah, penampilan Milan makin bertenaga sejak Bonaventura lebih banyak dioperasikan di lini tengah, bersama De Jong, Montolivo, atau Poli. Kelebihan Bonaventura ada pada keuletannya dalam bertarung di lini tengah.
Gesit di belakang, ulet di tengah, dan lincah di depan mulai menjadi ciri khas Milan sejak melawan Napoli, Real Madrid, dan AS Roma di babak kedua. Ya baru di babak kedua, karena di babak pertama Milan lebih memanfaatkan serangan balik, dengan menumpuk pemain di lini belakang. Tidak heran aksi Menez tidak kentara pada pertandingan tersebut mengingat Menez kurang mendapat pasokan bola yang memadai dari lini tengah. Selain itu kelebihan Menez ada pada dribelnya yang tidak terduga dan kemampuan sprint dekat kotak penalti. Gol melawan Parma, Napoli, serta penalti saat melawan Lazio adalah bukti sahihnya.
Saat melawan Sassuolo, keuletan Milan tidak terlihat. Milan memang membuka pertandingan dengan meyakinkan.  Bonaventura  boleh dibilang menang adu tenaga melawan Acerbi, sehingga mampu mengirim umpan akurat kepada El Shaarawy, sebelum dituntaskan oleh Polli.
Namun sejak gol tersebut, Milan seperti kembali ke gaya lamanya, gaya yang kikuk saat ditekan lawan. Setelah gol pertama, Milan lebih memilih gaya serangan balik dan bukan menekan pertahanan saat lawan menguasai bola Di Sciglio boleh dibilang tidak bisa mengimbangi permainan bertenaga Berardi. Rami yang biasanya aktif menyerang juga lebih banyak bertahan karena permainan cemerlang Missirioli.
Essien yang menggantikan tugas De Jong sebagai pemutus aliran serangan di lini tengah juga tidak tampil baik. Gol pertama Sassualo bahkan terjadi karena Essien tidak terlalu sempurna dalam menyapu umpan Berardi. Essien sepertinya lebih cocok sebagai pembagi bola seperti saat menjadi pemain pengganti melawan Cesena. Pada saat melawan Cesena,keberhasilan umpannya mencapai 94%. Pada pertandingan melawan Sassuolo, boleh dibilang lini tengah Milan kalah bertarung dengan gelandang Sassuolo.
Permainan Milan mulai lebih bertenaga saat mereka melakukan pergantian pemain. Di Sciglio digeser di posisi kiri sedang posisinya di kanan ditempati Abate. Essien yang bermain kurang efektif diganti Cerci. El Shaarawy yang lebih banyak melapis sisi kiri bersama Rami diganti Pazzini. Masuknya tiga pemain ini mengubah gaya permainan Milan dari mengandalkan mobilitas dua striker bayangan menjadi serangan yang mengandalkan pasokan bola ke kotak penalti dari Poli dan Bonaventura. Sisi kanan menjadi lebih ofensif karena permainan tajam Abate serta kemampuan Cerci menahan bola. Milan nyaris mencetak gol dari sepakan akrobat Pazzini. Hanya saja bola sepakannya berhasil dimentahkan Consigli.
Walaupun gol kedua Sassuolo berasal dari situasi bola mati, sesungguhnya lini belakang Milan sudah kalah bertarung dengan permainan ngotot Zaza, bahkan sebelum gol kedua Sassuolo terjadi. Absennya Mexes karena cedera saat melawan Real Madrid sepertinya mengubah gaya bertahan Milan. Zapata memang kokoh namun dinilai kurang gesit. Alex bukan tipe pemain yang memotong pergerakan lawan dari sepertiga lapangan, tekelnya cenderung banyak dilakukan di area 17-20 meter pertahanan sendiri. Absennya Bonera bisa dibilang juga berpengaruh pada permainan Milan. Walaupun beberapa kali menjadi sumber gol serangan lawan, pada tiga pertandingan terakhir Bonera telah menemukan perannya. Dengan pengalamannya menjadi deputi Nesta dan Maldini, Bonera menjadi bek kanan yang efisien. Bonera paham bagaimana cara membuatnya dilanggar saat sayap lawan menyisir sisi kiri pertahanan Milan.  

 Boleh dibilang Milan perlu bek yang agresif namun tetap elegan. Munoz incaran Milan dari Palermo bisa menjadi warna baru di lini pertahanan Milan. Munoz akan membuat lini belakang Milan lebih agresif sebab  ia tak canggung berduel dan sigap menghalau bola-bola atas. Di lini tengah, jika saat dilatih Allegri Milan surplus gelandang petarung, musim ini Milan justru memiliki banyak gelandang kreatif. Suso boleh jadi adalah sayap bayangan yang memiliki gaya mirip Poli atau Cerci. Obi Mikel dan Motta mungkin bisa memberikan suntikan energi tersendiri bagi lini tengah Milan, walaupun mungkin tidak seagresif De Jong yang diisukan akan hijrah ke setan merah yang lain Machester United. Dengan masuknya para petarung, El Shaarawy, bisa lebih tampil menyerang, sebab selama ini El Shaarawy adalah pemain yang terbilang yang tidak canggung turun kebawah membantu pertahanan hingga sisi luar kotak 16. Itupun dengan catatan jika ia tidak menerima pinangan klub lain di pertengahan musim ini

Friday, January 30, 2015

Marumaru Tsuma

asianwiki.com


Fiksi terkadang merupakan persoalan menempatkan awal cerita. Kita kadang baru ngeh klo tema cerita yang kita nikmati tidak sepenuhnya baru, justru menjelang akhir episode pertama. Marumaru Tsuma contohnya (○○). Kayak bentuknya yang bulet, Maru berarti perfection" of an (ideal young) person in body and spirit as a term of endearment. Nah klo tsuma kata urang minang artinyo induak bareh.
Seperti juga judulnya, marumaru tsuma bercerita soal Hikari istri yang perhatian banget ma lakinya yang anchor karismatik, Kubota Masazumi. Masazumi mo makan, doi tinggal ngunyah, mo baca koran pagi, tinggal baca, mo nongol di tipi tinggal pake baju (kamsudnya bajunya udah disiapin gitu). Dan lagi, Hikari juga fans nomor satu suaminya. Fans yang bukan sekedar klepek-klepek doang, tapi siap ngeritik lakinya klo pas tampil nggak banget di tipi. Cuma berhubung Hikari udah bobo pas lakinya pulang, dia bikin pointer deh di secarik kertas tentang apa yang nggak bagus dan apa yang bagus dari tampilan suaminye tiap tampil. Hebatnyo lagi klo pas suaminya nyampe rumah laper, Hikari bisa tiba-tiba nongol dari dapur nyediain semangkok makan malem (nulis bagian ini bikin gue laper beneran).
Perhatian Hikari bukan cuma sama suaminya, tapi juga sama keluarga besar Masazumi. Pas ibu mertuanya ultah, Hikari bahkan nyediain hadiah buat mertuanya tanpa sepengetahuan suaminya. Nggak heran Hikari bukan cuma dapet pujian dua mertuanya. Perhatian yang boleh dibilang jarang dikasih sama Kubota senior. Maklum mertuanya itu terbilang keras ma konservatif, maunya dilayani. Ngga heran Masazumi ampe gedeg dibuatnya. Sebenernya nyokapnya pembokat apa istri sih. Begitu kira-kira kata orang sini klo komen pake nyablak. Sebenernya klo diliat-liat Kubota senior ma junior sama aja. Sama aja doyan dilayani istri ngga pake tapi.
Sebenernya care bukan hal baru buat Hikari. Doi udah biasa nunjukin care sama siapa aja sejak jadi perawat. Kebeneran Masazumi pernah ngerasain perhatian Hikari saat masih merintis karier.  Ipar Hikari bahkan ngegambarin gimana Masazumi tersepona sama Hikari "Men are weak when it comes to angels in white. Nyokap mertuanya juga muji menantunya segala pake quote di film Golden Geisha “It’s all thanks to his wife help (kaga tau ngomong jepangnya gimana #jujur #eh). Pokoknya sempurna deh, seideal judulnya.
Tapi fiksi ngga akan seru klo ngga ada antagonisnya. Dan antagonis nggak selalu berupa tokoh hitam putih, tapi kadang juga bagian dari cerita. Antagonisme yang disimpan rapat,  Hikari sama Masazumi, selama enam tahun pernikahan. Prenuptial Agreement kata orang sono.  Mungkin kontrak nikah pura-pura jadi istilah yang lebih tepat karena mereka memang belum nikah beneran. Tanpa cincin pernikahan dan tidur pun terpisah. Ternyata Marumaru Tsuma nggak beda jauh sama cerita Contract Marriage yang judulnya bejibun di drama korea. Bedanya (seenggaknya) gue baru ngeh klo itu soal nikah pura-pura baru diujung episode pertama.
Walaupun bukan tema favorit, ceritanya terbilang menarik buat saya secara sampe pertengahan episode berikut, kita masih dibuat bertanya-tanya kenapa Hikari selalu meminta Masazumi memperbarui kontrak pernikahan mereka tiap tiga tahun.
Ternyata Marumaru Tsuma termasuk berhasil buat saya nongkrongin lagi drama jepang diluar drama medis. Boleh dibilang udah dua musim ini saya lebih milih absen dan selingkuh sama drama korea karena emang tema dorama yang lain in sekarang nggak jauh-jauh sama tema-tema adultery ma drama profesi tentang cara atasan nyampe posisi tertinggi. Walaupun yang maen mau sekalem Aya Ueto yang dikenal jadi nyokapnya Oshin (2014) atau Kitamura Kazuki yang tampil bengis pas maen bareng Oka Antara di film Killers tapi tema affair masih belum buat gue doyan-doyan amat

Dibilang belom doyan-doyan amat  karena saya ternyata juga menikmati Seijo (saint), dorama yang ngupas sisi manusiawi Hiji Motoko, perempuan yang menggunakan kecantikannya untuk memikat laki-laki. Drama  Jepang yang nyoba ngeliat hitam putih Motoko apa adanya, tanpa penghakiman berlebihan pada pilihannya 

Tuesday, January 6, 2015

Keseimbangan Tim Terbaik NBA 2015


 s1.totalprosports.com/ 

Golden State Warriors meraih rekor yang terbilang gemilang musim ini. Dari 26 pertandingan mereka baru kalah lima kali. Padahal dengan starter yang nyaris sama, tim ini sempat terdampar di peringkat 13 wilayah barat pada musim 2011-2012. Pada musim tersebut Warrior mengandalkan draft no. 7 tahun 2009 Stephen Curry dan draft no. 11 tahun 2011 Klay Thompson, Andrew Bogut dan David Lee.
Rekor Kerr sebagai pelatih baru terbilang luar biasa namun tidak mengejutkan (pelatih baru dengan rekor kemenangan terbaik masih dipegang Paul Westphal dengan rekor 62-20). Kerr menjadi bagian tim juara bersama Jordan di Bulls dan Duncan di Spurs. Pengalaman bersama tim juara diterapkannya saat melatih. 
51 kemenangan  bersama Mark Jackson sebenarnya bukan hasil yang buruk. Hanya saja kekalahan atas Clippers di babak pertama Playoff membuat tim ini akhirnya memilih Steve Kerr sebagai pelatih baru.
Steve Kerr membuat tim ini menjadi lebih dinamis.  Saat bersama Jackson, Stephen Curry bermain sebagai point guard. Dengan tembakan 3 angka yang mencapai 44% dan field goalnya yang mencapai 46%, Curry memiliki keleluasaan untuk menembak atau mengoperkan bola langsung ke Andrew Bogut yang tangguh ke bawah jaring atau David Lee yang memiliki penetrasi dan kontrol bola yang bagus atau ke Klay Thompson yang sama-sama memiliki tembakan 3 angka yang jitu. Hanya saja gaya ini jadi mudah terbaca. Jika Curry mendapat pengawalan dua pemain, ruang gerak Curry untuk mendistribusikan bola cenderung terbatas.
Saat ini, serangan lebih cenderung bervariasi. Curry bukan lagi pembawa bola utama. Leandro Barbosa, Klay Thompson atau bahkan Andre Iguodala yang notabene kurang memiliki dribel bagus bisa menginisiasi serangan. Stephen Curry dibiarkan bergerak bebas di dalam lingkar dalam untuk mengacaukan pengawalan sekaligus membuka ruang bagi pemain lain untuk menerima umpan dari inisiator serangan.
 
Bballbreakdown
Warriors juga memiliki Andrew Bogut. Center lincah ini bisa bertindak sebagai pemantul di sisi dalam pelangi tiga angka. Saat berada di bagian dalam busur tiga angka, Bogut atau David Lee akan berhadapan dengan inisiator serangan untuk menerima bola.  Pada posisi ini biasanya guard lawan akan berdiri membelakangi Bogut atau David Lee agar center tidak leluasa  menerobos paint area begitu menerima bola. Hanya saja dengan kegesitan Bogut atau Lee mereka bisa meloloskan diri dari kawalan lawan. Keduanya bisa mengeksekusi ataupun pengumpan pada pemain lain yang lebih bebas. Dengan gaya ini umpan Warriors meningkat dari 245 umpan per pertandingan menjadi 311 umpan per pertandingan.
Saat seorang Big man menjadi pemantul, dua pemain lain akan bergerak membentuk pola segitiga untuk mendapat ruang tembak yang terbuka. Hanya saja akurasi tembakannya cenderung tidak terlalu akurat mengingat mereka biasanya langsung menembak begitu mendapat ruang terbuka. Pola triangle offense ini tidak asing bagi Kerr karena Kerr pernah mempraktikannya saat bermain bagi Chicago Bulls bersama Phil Jackson.   Berbeda dengan triangle offense, dalam pick and roll, pemain yang berada dalam posisi bebas akan mendapat pasokan bola dari point guard. Dengan pergerakan yang lebih bebas, tidak heran persentase 3 point Curry menurun jadi dibawah 40 persen sedang field goal attempt meningkat menjadi 49% musim ini. Rataan field goal Curry selama kariernya mencapai 46%. 
Bukan hanya sisi offense, sisi defense Warrior juga terbilang bagus. Bahkan tim ini menjadi tim paling efisien dalam bertahan. Dalam satu pertandingan Warriors hanya kemasukan rata-rata 96,5 meningkat dari musim lalu yang berada pada posisi 12 dengan 105,3 poin dalam satu pertandingan. Salah satu kepingan pertahanan itu ada pada snipper mereka Klay Thompson. Klay Thompson ditugaskan menjaga pemain yang tidak lebih tinggi darinya. Dengan kelincahannya, Thompson mampu mengimbangi kecepatan guard seperti Kyle Lowry.
Dengan tinggi sekitar 2 meter dan berat 100 kg, Harrison Barnes menjadi sosok pemain bertahan   atletis yang dibutuhkan tim ofensif seperti Warriors.  Dengan kekuatan dan kecepatannya Barnes dapat lekas menutup ruang gerak shooter atau pemain selicin Tony Parker. Daya jelajahnya di lapangan juga tergolong tinggi yaitu 3,6 mil dalam 48 menit. Rataan tembakan tiga angka Barnes juga diatas duo sniper Warrior yaitu sekitar 42 persen. Draymon Green juga menampilkan permainan fisik ulet dan cepat yang sama dengan Barnes.
Dengan kualitas permainan bertahan yang dimiliki, Warriors bisa memainkan sistem pertahanan triangle defense. Pada sistem ini tiga pemain bertugas mengurung center center untuk mencegah point guard lawan mengirimkan umpan untuk dikonversi menjadi dunk. Jika  point guard lawan tidak memiliki celah mengirim umpan ke paint area maka mereka akan mengirim umpan pada pemain lain yang berada di busur dalam. Untuk menjaga busur dalam ini, Warriors menggunakan pola pertahanan ice.  
Pada sistem pertahanan ini, Thompson bertugas melakukan pengawalan pada pemain yang posturnya tidak lebih tinggi darinya. Saat akan melakukan jump shot, pemain seperti Barnes atau Green segera melakukan double team bersama Thompson. Gaya pertahanan ini menutup ruang gerak jump shooter untuk menembak.

Absennya Bogut membuat tim ini sedikit kehilangan dominasi di paint area terutama saat melawan tim dengan center yang tangguh. Peran vital Bogut terlihat secara statistik. Dari 100 kesempatan memulai serangan (possession), Bogut bisa menggagalkan kesempatan tim lawan mencetak angka sebesar 19,2 persen. Memphis Grizzlies memiliki pemain Marc Gasol, center terbaik NBA serta Tony Allen, pemain yang membuat Kevin Durant mati kutu. Lakers juga berhasil mengalahkan Warrior lewat keuletan dua bigmannya Jordan Hill dan Ed Davis. Pola pertahanan ice juga kurang efektif dalam menjaga Blake Griffin mengingat forward ini piawai mengeksekusi mid range jumper serta tembakan tiga angka selain dunk tentunya. Dalam tiga pertandingan terakhirnya, Warrior selalu meraih kemenangan, baik saat melawan Timberwolves,  Sixers, maupun Raptors. Tiga tim yang tidak terlalu tangguh dalam posisi bigman. Menarik disaksikan bagaimana tim ini saat harus menghadapi Serge Ibaka dan Kevin Durant,  forward kekar yang tidak hanya piawai bermain di paint area, namun juga memiliki tembakan jitu. Jika berhasil melewati hadangan Oklahoma City Thunder dan lawan tangguh lain seperti Houston Rocket, Miami Heat, atau Cleveland Cavaliers pada 3 dari 10 pertandingan berikutnya boleh jadi Warriors menjadi penantang serius juara NBA. Terlebih Triangle Offense telah menghasilkan sebelas gelar juara pada 25 tahun terakhir. 

Saturday, September 20, 2014

Sentuhan Kocak Stephen Chow lewat Sun Go Kong Gaya Baru



Rasanya udah cukup lama nggak nyaksiin kekocakan Stephen Chow di tivi.  Seinget saya Stephen Chow rajin wara-wiri  lewat Fight Back to School, God of Gambler, sama klo ngga salah Shaolin Soccer. Guyonan Stephen Chow yang kadang garing dan sedikit nakal ngga pake tanda kutip ini ternyata ada istilah kerennya yaitu  Mao Le Tao, yang secara gampangnya berarti make no sense alias ngga masuk akal. Formula ini laris manis sekitar tahun 1990 an dan bukan cuma lewat film Stephen Chow aja kayaknya, kekocakan Bobo Ho atau Hao Hsao Wen juga pake gaya kocak yang sama.  
Film Hsao Hwen dan Stephen Chow rajin hadir terutama sewaktu liburan sekolah. Biasanya film Bobo Ho nongol jadi cemilan pagi sedang film Stephen Chow hadir siang atau sore hari karena lebih cocok untuk tontonan remaja. Wlopun kerap diulang-ulang, ceritanya yang kocak bikin tetepnagih dan nggak heran klo cerita macem ini masih tetep digemari. Gaya kocak khas film Hong Kong yang belum tentu hadir di film Hollywood atau Bollywood. That's why I love Hong Kong Movie

mg.gawkerassets.com

Balik lagi ke film Stephen Chow,  Setelah era Shaolin Soccer, Stephen Chow sebenernya hadir lewat dua film yang cukup diterima di dunia internasional, yaitu Kung fu Hustle dan CJ 7, tapi emang nongolnya ngga serajin film Stephen Chow terdahulu (seenggaknya di tivi Indonesia).
Bagi yang kangen nikmatin aksi kocak ala Stepehen Chow, kita bisa nikmatin arahannya lewat Journey to the West: Conquering the Demons (2013). Menurut Box Office Mojo, film ini nangkring di posisi 13 tangga Box Office Hong Kong pake aja. Peringkat 13 bukan posisi yang buruk mengingat peringkat sepuluh besar didominasi film super hero hollywood macam Iron Man 3, Man of Steel, Thor, sampe Pacific Rim-nya Ashida Mana. The Hobbit nggak saya masukin mengingat Tolkien, penulis ceritanya boleh dibilang orang Inggris.   di Tiongkok malah lebih dasyat lagi. Film ini malah nampang di peringkat pertama daftar film terlaris tahun 2013. Peringkat yang boleh dibilang luar biasa untuk fiksi yang udah diadaptasi lebih dari dua puluh kali. Cerita film ini nggak jauh beda dari cerita serial yang nongol di tivi sekitar taon 1996, yaitu cerita perjalanan biksu Tong ngambil kitab suci ke Barat bareng ketiga muridnya.
Pertanyaannya yang nongol sekarang simpel aja. Apa sih menariknya film ini sampe bisa nongkrong manis di jajaran Box Office Hong Kong dan Tiongkok sana.  Berhubung saya nggak tahu makannya saya nonton. Ternyataaa hasilnya sama sekali nggak mengecewakan. Saya mulai dari film pertama Journey to the West: Conquering the Demons
Cerita  Journey to the West: Conquering the Demons sendiri menarik karena film ini nggak mengunyah mentah-mentah kisah Biksu Tong dan ketiga muridnya dalam ngebasmi siluman, tapi menginterpretasikan ulang salah satu fragmen dalam cerita ini, lebih tepatnya bagian Tong Sam Chong sebelum jadi biksu.
Dalam film ini dikisahin bahwa Tong Sam Chong (Wen Yang) merupakan seorang pemburu siluman berhati lembut. Berdasarkan ajaran gurunya, Sam Chong diajarin untuk nangkep siluman pake pendekatan manusiawi. Maksudnya, klo perlu cara nangkepnya boleh sih pake otot tapi bukan berarti pake kekerasan. Klopun pake kekerasan, endingnya tetep disirami pake cinta kasih (kok kayak nama penyanyi).
Cara ini diterapin waktu Sam Chong nangkep siluman ikan (apa sungai gitu). Kenapa siluman ini harus ditangkep? Karena siluman nakal ini udah ngebunuh warga desa nelayan. Cerita awal yang kocak dan menjanjikan keseruan. Bersama warga desa, Sam Chong bahu membahu meringkus siluman ikan. Ratusan warga desa berusaha ngejungkelin ikan raksasa pake prinsip jungkat-jungkit. Sayang berhubung ikannya berukuran jumbo, bukan ikannya yang mental ke atas tapi malah warga desanya. Siluman ikan akhirnya berhasil ditaklukan setelah salah satu warga desa bertubuh besar menginjak jungkat-jungkitnya. Singkatnya setelah mental, si ikan ternyata berubah jadi manusia. Maka mulailah si Sam Chong nyanyiin kidung bernuansa R&B untuk nyadarin si siluman. Lah bukannya sadar, si ikan malah nyerang Sam Cong. Untung muncul Miss Duan (Shu Qi), pemburu hantu tomboi yang berhasil ngeringkus siluman pake jurus gelang-gelang CGI (maklum kentara banget klo itu animasi).
Si Sam Chong takjub sekaligus Syok. Takjub karena Shu Qi aksinya keren pake bingits dan Syok karena pendekatan manusiawinya gagal. Miss Duan? Termehek-mehek dianya karena kelembutan hati si Sam Chong. Sayang cintanya tak terbalas, maklum buat Sam Cong cintanya yang terbesar adalah sama pencipta-Nya. Yah unrequited love gitu lach. 
Walaupun lom terbales, Shu Qi ngga nyerah gitu aja. Dia bertekad ngikutin si Sam Cong ngebasmi siluman laen kemana ajah. Nah kali ini giliran ngebasmi Ti Pat Kai. Tapi penonton yang budiman jangan ngarep bakal ngeliat Pat Kai yang bergenit-genit sana kemari deh, apalagi ngucapin kata-kata begitulah cinta, deritanya tiada akhir.
Disini kita bakal disuguhin cerita siluman babi yang keker dan sulit dikalahin. Miss Duan yang keren aja sampe ngos-ngosan ngadepinnya. Satu-satunya siluman yang bisa ngalahin cuma si Sun Go Kong. Sayang Go Kong dikurung di Gua Gunung Lima Jari sama Buddha karena ngobok-obok kayangan (Joshua kali). Jadi mau nggak mau si Sam Chong ma Miss Duan harus ke gunung lima jari untuk nemuin kera licik satu ini. Simply put, si Go Kong mau bantu mereka berdua asal Miss Duan mau pura-pura jadi dewi bulan untuk mancing Pat Kai animasi ke Gua Lima Jari. Nggak perlu repot-repot, Miss Duan sama Sam Chong cukup nongkrong di luar. Urusan babi animasi biar tunggu beres aja.
Untuk kali ini, ngga usah ngarep bisa nonton aksi gebug-gebugan dua siluman atau aksi Sun Go Kong deh.  Kita justru diajak untuk langsung liat babi mungil tiba-tiba udah ada aja gitu di gendongan Sun Go Kong beberapa menit setelah masuk mulut gua.  
sinastar.files.wordpress.com

Sampai bagian ini, kita akan makin sadar klo cerita ini beda banget sama cerita Sun Go Kong di tipi kampung saya dulu (ngga tau kampung sebelah). Stephen Chow  sebagai sutradara sepertinya mencoba melihat kisah ini dari sudut pandang baru, melihat Sam Chong mencari jati diri secara manusiawi, tanpa meninggalkan unsur dalam versi originalnya.  Sebuah eksperimen yang beresiko sebenernya. Chow mungkin nganggep bahwa kisah Sun Go Kong sudah cukup ngelotok di kepala penonton. Saya sendiri beruntung bisa memahami alesan yang singkat padet keset Go Kong tentang kenapa Miss Duan harus nyamar jadi dewi bulan untuk nangkep Pat Kai atau kenapa Pat Kai hanya bisa dikalahin sama Go Kong. Alesannya bisa ditarik dari kisah Jendral Tian Feng dalam cerita Sun Go Kong. Tapi saya nggak yakin semua penonton tahu hal ini atau malah cerita ini memang sengaja dibuat untuk merangkul pecinta kisah klasik ini, diperluin peneluran lebih jauh untuk ngebuktiin hal ini. Tapi klo dilihat daftar Box Office-nya bisa jadi. Mengingat film ini sendiri meraup sukses saat ditayangkan di Tiongkok, Singapura, Hong Kong, dan Malaysia. Sekilas negara-negara tersebut emang cukup akrab dengan cerita asli Sun Go Kong.
Kekocakan Stephen Chow kerasa banget disini. Adegan komikal khas Stephen Chow hadir lewat ekspresi innocent Sam Chong muda dan gimana sosok perempuan besar penakluk siluman ikan digambarkan memiliki langkah yang menggetarkan tanah sampe bikin orang disekitarnya ikut mental yang mau nggak mau mengingatkan kita dengan gaya khas Stephen Chow.
/3.bp.blogspot.com/

Membahas Journey to the West: Conquering the Demons, rasanya nggak lengkap klo tidak membahas Monkey King (2014). Box Office Tiongkong peringkat dua menurut Box Office Mojo ini juga menghadirkan barisan pemain yang sudah cukup akrab di Indonesia. Siapa yang ngga kenal Chow Yun Fat yang populer dengan God of Gamblers seriesnya bersama Andy Lau atau Stephen Chow, atau Wuxia fenomenalnya dengan Michelle Yeoh, Crouching Tiger Hidden Dragon? Atau aktor terlaris Hong Kong saat ini Donnie Yen yang terangkat namanya lewat Ip Man series? Atau artis yang terkenal dengan belah tengahnya sekitar taon 1995-an (muda amat yak gue, tapinya gue ngga kebawa trend soalnya model rambut gue rada bergelombang alias rada kurang pas, ini soal aktor apa iklan sampo), Aaron Kwok. Ketiga artis beken sejak era 1990 an itu ngejogrog jadi satu di film yang lewat pelm Dà Nào Tiān Gōng alias Monkey King atawa Kera Sakti klo disini (heran terjemahannya beda-beda yak). Nama-nama yang jelas kerap hadir di Celestial Movie, entah lewat Confucius (Chow Yun Fat), Ip Man (Donnie Yen), atau Cold War (Aaron Kwok). 
Aaron Kwok belah tengah rada pinggir http://4.bp.blogspot.com/ 

Dari segi cerita, nggak terlalu beda sama Sun Go Kong versi serial yang dimaenin Dicky Cheung, emang sih dari segi karakter rada beda. Hubungan Siluman Banteng (Aaron Kwok) dengan Sun Go Kong ngga semesra di serialnya. Di serialnya Sun Go Kong sodaraan sama siluman banteng tapi di film Go Kong jadi antagonis Siluman Banteng. Terlepas dari interpretasi yang rada beda dengan serialnya, secara umum interpretasi Monkey King ngga seekstrim besutan Stephen Chow, ceileh besutan. Monkey King sendiri menyoroti cerita Sun Go Kong hingga ngobrak-abrik istana kayangan. Dan walaupun ngga ada cerita yang relatif baru dari film ini, barisan pemain dan efek visual yang ditampilkan jadi nilai lebih film ini. Dan klo ada yang nanya ke saya bagus mana film versi Donnie Yen atau besutan Stephen Chow, maka saya bakal jawab tergantung selera masing-masing. Klo mau liat Shu Qi atau Sun Go Kong dari sisi yang berbeda, kita bisa nikmati Sun Go Kong versi 2013. Klo mau menikmati keseruan cerita klasik dengan balutan efek prima dan barisan aktor juara, anda tau bakal nonton yang mana. Saya sendiri kebeneran mantengin dua-duanya. Sebagai pemanis coretan puanjang saya, kayaknya asik juga klo ditutup dengan kutipan Tong Sam Chong yang kurang lebih bunyinya begini ehem-ehem Nggak ada cinta yang rendah atau tinggi. Mo cinta sama Tuhan kek mau sama manusia, Cinta ya cinta aja, terlepas bener enggaknya, ucapan Sam Chong yang satu cukup menggelitik kalbu
"Tulisan ini diikutsertakan dalam Celestial Movies Blogger Writing Competition" 

Thursday, August 21, 2014

Hero dan Rating


 
Dorama ma rating kadang jadi patokan gue, at least, buat ngintip sebuah dorama. Makanya Ngga heran, beberapa orang sampe jemu (duilah jemu) nemu rating dan rating di coretan gue.  Salah satu drama jepang yang ratingnya lagi keren saat ini adalah Hero 2. Kenapa disebut Hero 2 karena ada Hero 1, ada Hero Special, bahkan sampe ada pelm bioskopnya. Kenapa bisa begitu? Mungkin karena ratingnya bagus.
www.gutbrain.com

Hero sendiri ide ceritanya simpel yaitu soal penuntut umum di Jepang.  Secara umum penuntut umum di Jepang sono けんじ: dibaca kenji), bertugas ngajuin tuntutan berdasarkan fakta yang mereka temuin (substantive truth). Di sana polisi emang punya peran besar buat nyelidikin kasus kriminal, tapi penuntut umumlah yang punya wewenang buat nentuin atau nangguhin tuntutan (to pursue as well as suspend persecution), tentu aja berdasarkan bukti investigasi dan kesaksian pelaku dan saksi.
Boleh dibilang penuntut umum punya wewenang besar tapi akses terhadap kasus ma bukti ngga sebesar polisi. Disinilah menariknya Hero. Kuryu Kohei nyelidikin kasus dengan cara yang ngga biasa. Kuryu Kenji ngga canggung buat blusukan ke TKP bahkan wawancara saksi di tempat untuk mastiin dakwaan yang dia bikin akurat, bukan sekedar ngejogrog di belakang meja. Menariknya lagi, walopun bahasa hukum atawa legal term lumayan menantang, Kuryu Kenji nyampein dengan cukup simpel. Latar belakangnya sebagai lulusan SMA yang berhasil lulus ujian BAR, mungkin jadi alesan kenapa Kuryu Kenji jadi public prosecutor yang terbilang simpel dan cenderung urakan klo dibandingin sama para koleganya. Bahkan jaket yang dipake di Hero season satu jadi trend mode, ngga tahu juga sama model kemeja kotak-kotak di season 2 ini (bukan kampanye).
Kekuatan drama ini ada pada ceritanya yang simpel (bahkan gue sempat bilang terlalu simpel buat dorama jaman sekarang yang orientasi ceritanya ngandelin science atau kasusnya sekompleks Conan). Pendapat gue seakan sirna  aja ngeliat cerita season kali ini, walaupun formulanya tetap sama. Tampilan busana yang lebih trendi serta karakter dan adegan juga dibuat lebih cair dan cepet, ngilangin kesan jadul.  Ceritanya juga  tetep seru karena Hero selalu ngajak penonton untuk melihat kasus dengan kacamata sehari-hari. Saat Kuryu Kenji dateng ke TKP, penonton bisa menilai pake logika sehari-hari, apakah tersangka mungkin ngelakuin kejahatan atau nggak lewat reka adegan  atau pengamatan yang biasanya diperagain sama Kuryu Kenji dan asistennya. 
www.elle.com.hk

Selain cara penceritaan yang simpel, kekuatan drama ini ada di karakter dan adegan para pemainnya. Karakter Takuya Kimura tetep sama, simpatik. Karakter simpatik ini berpadu pas dengan karakter yang galak-galak cerewet Maiko Amamiya (Takako Matsu), asisten Kuryu Kenji di season 1 dan Keiko Kitagawa yang cenderung lebih judes di Season 2. Drama ini makin segar lewat adegan-adegan lucu antar karakter. Karakter masing-masing tokoh yang kuat bisa mancing kelucuan tersendiri, kadang tanpa perlu akting lucu dari para pemainnya. Serial OB mungkin bisa jadi contoh yang pas. Di musim pertama kelucuan hadir lewat karakter Egami Kenji, penuntut umum yang naksir Maiko Amamiya atau affair  kucing-kucingan antara dua rekan sesama penuntut umum, Mitsubu Shibayama (Hiroshi Abe) Misuzu Nakamura (Nene Otsuka), dan komporan dan gosip para asisten kenji yaitu Kenji Endo dan Takayuki Suetsugu. Di season 2, Egami Kenji dan Misuzu Nakamura nongol masing-masing di satu episode. Mitsubu Shibayama dan Maiko Amamiya belum nongol sampe episode ini. Di season 2 karakter yang boleh dibilang mirip, mengisi ruang pemeran sebelumnya. Gaku Yamada berperan jadi kenji pemalu yang naksir Keiko Kitagawa. Tetta Sugimoto dan Yo Yoshida mengisi peran Hiroshi Abe dan Nene Otsuka. Hanya aja peran mereka berdua bukan pasangan kucing-kucingan, tapi mantan pacar yang jadi temen berantem di kantor. Boleh dibilang, cerita ini banyak yang doyan karena perpaduan ceritanya yang sederhana, karakter yang kuat, serta humor ala komedi situasi yang terjalin manis di serial ini.  
Walaupun gue bilang yang doyan, buat yang laen lom tentu sama. Buat ngebuktiinya, nikmatin aja serialnya di Hero 2
.  

Friday, July 18, 2014

Lovely Lesson from the Marcell's

Apa sih yang kita dapet dari sebuah cerita, cerita kelinci dan kura-kura misalnya? Jawaban kita belom tentu sama. Mungkin ada yang bakal jawab begini “kelincinya sih sombong, coba deh klo kelincinya ga pake bobo dulu segala, bakal ngacir duluan tuh kelinci.” Pendapat lain mungkin bilang “kura-kuranya hebat ya, walaupun dia tau klo adu lari bakal kalah, dia tetep lari dan lari dan akhirnya menang.”
Kalaupun ada pendapat laen ga masalah, dua pendapat diatas cuma contoh pendapat yang mungkin keluar dari anak-anak temen cela-celaan saya, daddy Marcell (kadang saya anggep sodara sih, terutama klo ada maunya wkwkwkwk).
Jawaban kira-kira model pertama kayaknya keluar dari putra Daddy Marcell, sebut aja si (Nathan) Boy. Pendapat ngawur saya ini sebenernya ga ngarang-ngarang amat. Maklum menurut si Daddy-nya, Boy ini opininya tajem dan kadang unpredictable. Dan jawaban kedua itu kemungkinan gede dateng dari cici-nya si Boy, cici Fio. Putrinya daddy Marcell yang wise, yang saya yakin kadang lebih wise dari daddynya wkwkwkwkkwk
Mungkin yang baca note ini bakal nanya-nanya, kenapa saya mendadak bawa-bawa nama anak-anaknya daddy Marcell pas cerita soal dongeng anak beginian. Dan siapa pula mahluk bernama daddy Marcell ini.
Ngedengerin opini dari cerita inspiratif bukan barang baru buat anak-anak si Marcell. Boleh dibilang sampe setara SMP disini, Cici  ma si Boy yang masih SD ini dibiasain ngeluarin pendapat dari apa yang mereka saksiin, denger, sampe mereka alamin, bisa dari bible, film, bacaan, sampe cerita pengantar bobok.  Suatu hal yang udah jarang kita lakuin, yang konon sok sibuk ini.
Dari ritual inilah komunikasi Daddy Marcell, Mami Susan, Cici ma Boy berjalan baik. Bahkan di keluarga Daddy Marcell, seakan tanpa sekat, mereka berempat bisa ledek-ledekan satu sama laen termasuk, nyamain lucunya si Daddy sama teletubbies (Wibi, temen cela-celaanya daddy Marcell, keknya setuju banget soal yang ini wkwkwkw). Suatu gaya keluarga yang mungkin dianggap unik buat keluarga yang laen.
Cerita ledek-ledekan ala keluarga Marcell ini bukan saya karang bebas. Tapi emang diceritain langsung sama daddy Marcell sendiri, lewat ocehan onlinenya. Kenapa saya bisa apal? Karena Marcell adalah salah satu temen online paling konsisten yang saya (sok) kenal. Coretannya ngga jauh-jauh dari cerita Cici, Boy, Mami, sama kenarsisan Daddy-nya. Mau yang baca sepuluh apa seribu, bodo amat, doi pantang mundur buat ceritain Mami ma anak-anaknya: Marcell, Fio, ma Nathan. 
Cerita yang Marcell bagi macem-macem. Kebanyakan tentang bakat ma prestasi anak-anaknya yang KEREN, cici yang bakat seninya kuat atau boy yang itung-itungan ma analisisnya jago. Klo baca coretan Marcell kita bakal dibawa belajar soal parenting ala Daddy Marcell deh pokoknya, termasuk gimana cara si Marcell ngerjain si Boy sampe sesenggukan, ini bokap jail juga.
Walaupun jail si daddy ini motherly banget klo saya bilang. Nih Marcell hobinya mulai dari nemenin cici ma boy belajar sampe nyeramahin. Karena alasan inilah, saran saya sih, klo mau maenan, minta aja ke mami, kemungkinan dikasihnya lebih gede. Maklum klo sama Marcell, kayaknya bakal diceramain dulu pake kata-kata bijak, ujung-ujungnya ngga jadi dapet maenan. kenapa si mami? Mami konon orangnya tegas, praktis, ga doyan ribet, dan kata Marcell lebih jago debat dari daddy-nya.   Gaya yang cenderung beda sama Marcell ini justru cocok untuk ngelengkapin gaya daddy yang slengean dan kata dirinya sendiri wise.
Daritadi ngomongin daddy, cici ma boy. Lah trus apa yang bisa dipelajarin dari si mami? Sebenernya rada susah juga sih dapet info soal mami, selain masakannya konon enak banget, cerita soal mami biasanya klo ga soal pacaran ya soal jitak-jitakan (baca: mesra-mesraan), maklum si mami lebih banyak aksinya daripada ngomongnya. Tapi soal perhatian sama aksi mami jagonya. Suster di rumah sakit aja kalah cekatan ma dia, puji si Marcell.
Ngomongin soal aksi mami, selaen masakannya sama kehebatannya memotivasi cici ma boy, Si mami ini yang ngajarin si Marcell untuk ngasih privasi ke anak tapi tetep sesekali meriksa kamar mereka. Dan sejauh ini kepercayaan duet Daddy Marcell sama si Mami menuai hasil positif. Cici ma Boy bertanggung jawab sama privasi yang bonyoknya kasih.
Itulah kenapa saya ga bosen bilang klo si Mami, cici, ma boy keren abis. Klo si Marcell? Tanya aja sama orangnya, soalnya klo nanya ma orang laen jawabannya kadang beda wkwkwkw.

Seenggaknya, cerita diatas adalah beberapa inspirasi yang bisa kita ambil dari mami, cici, ma boy yang keren. Walaupun blom bisa dipraktekin sepenuhnya, seenggaknya pengalaman mereka bisa jadi inspirasi. Maklum yang udah dipraktekin cuma soal ledek-ledekannya doang. Ngeledekin daddy-nya cici ma boy wkwkwkkw. 
Mungkin ngga semua orang setuju dengan kegokilan daddy Marcell. Terlepas dari setuju atau nggaknya, mereka yang singgah bisa memilah mana kegokilan yang mau kita terapkan dan mana yang nggak.  

Friday, July 11, 2014

Lempeng


Diakui atau nggak, sebagian manusia, termasuk gue, doyan merhatiin hal yang bengkok-bengkok. Ketika ngeliat yang bengkok itulah, sebagian kita punya potensi ingin meluruskan kebengokan, terlepas dari beberapa aspek, kita blom tentu lebih bener daripada mereka yang konon jadi tukang bengkokinnya. Ngga heran berita kriminal sampe pejuang pemilu bersih bertebaran dimana-mana. Simpelnya klo dari sononya udah lempeng ngapain dikoreksi. Klopun ada berita soal prestasi dan solusi, gaung dramanya ngga sekenceng para pejuang demokrasi, Nah klo ada yang nanya ke gue soal lempeng-lempengan, gue bingung juga jawabnya, wong diri sendiri blom lempeng, malah sibuk ngelempengin tempat lain. #Kaca mana kaca.
4.bp.blogspot.com

Soal lempeng-lempengan begini kayaknya jadi menu di dorama Wakamonotachi 2014 (Young People), seenggaknya keintip dari episode pembuka. Drama ini nyeritain kakak beradek Sato, dengan tantangan masing-masing. Asahi kakak tertua, bisa dibilang kakak kalem, pengayom, yang bertanggung jawab, tapi ngga segen pake sedikit jurus gulat canda gemes buat ngelempengin yang bengkok-bengkok (sebecanda-becandanya klo pake piting sama mpe mental ya kembali kasih juga sih). Alasan proteksi buat adek-adeknya mungkin bisa dimaklumi, tapi gulatnya blom tentu diterima.
cdn.fstatic.com

Juragan lempeng ini dapet tantangan menarik tersendiri dari pacarnya lewat pertanyaan. Pertanyaan Mpok Asuza sendiri adalah soal shortgun married (dekichatta kekkon). Kenapa nanya? Secara doi konon hamil tiga bulan. Keduanya sebenernya paham-paham aja kepedulian Asahi sama empat adeknya, tapi berhubung ini soal anugerah, tetep aja jadi topik renyah, pedes, ma manis (kripik kale). Menariknya sutradaranya tau aja cara bikin cerita.  Mpok Asuza konon nyambi kerja malem di klub buat nyari tambahan rezeki sekaligus (klo ngga salah) ngembaliin neraca keluarga di kampung, diluar usaha jualan bento di deket proyek konstruksi juragan lempeng mengabdi. Bisa ditebak Asahi jadi punya pembenaran tambahan buat jitak-jitakan sama mpok Asuza.   
4.bp.blogspot.com

Cerita Sato kedua, Satoru, blom banyak diulas disini secara doi diceritain baru nongol dari balik jeruji dan disambut Masami Nagasawa, putri korban Satoru yang berakting tomboi, dan nggak canggung maen bibir berasep.
s3.amazonaws.com

Sato ketiga adalah Hikari. Kalau ngga salah profesinya adalah perawat rumah sakit. Tantangannya beda lagi sama dua abangnya. Mpok Hikari ini naksir berat sama dokter yang udah jadi keluarga buat Sato bersaudara. Menariknya Raden mas mpok Hikari udah punya titel keluarga kecil bahagia sejahtera, alias istri satu, buntut satu. Nah pan bisa ditebak gimana sikap Asahi. Sebagai kakak yang baik dan bertanggung jawab doi siap dong pasang badan. Tapi ya klo pake ngaca susah juga sih

Sato berikutnya adalah Haru. Doi klo ngga salah adalah sutradara drama yang konon guyup ma idealis. Selain jadi detektif juragan lempeng buat nyari informasi mpok idamannya dari tempat kerja sampe tempat nonton gulat, cerita Haru sendiri blom banyak digali. Yang jelas tantangan buat Haru cenderung klise yaitu selamat menikmati sarapan sepiring Idealisme.
pbs.twimg.com


Tadashi adalah Sato bontot. Anak sekolah yang singkatnya kenalan sama temen sekelas dan ujug-ujug udah nongol foto versi ngadep gelas (minuman beralkohol) ma beberapa foto lilitan selimut atau anduk aja (fiuhhh, wlopun ngga eksplisit, teteup aja jadi tantangan bulan puasa). Berhubung masih episode awal, cerita Tadashi blom keeksplor semua, paling pas pulang cengar-cengir sama diajak gulat aja sama Asahi juragan lempeng gara-gara ngobrolin gelas. Terlepas dari tantangan dan ritual gulat keluarga Sato, obrolan keluarga ini cenderung renyah dan terbuka, dengan aksen candaan dan jitak-jitakan disana-sini
www.intuned.com

Nonton Wakamonotachi 2014 serasa nonton sinetron Republik Indonesia, lumayan banyak ceritanya untuk sebuah drajep, terlepas episode pertama drajep biasanya dibuat “wah” buat gong, dengan tambahan durasi lima belas menit dari episode biasa. Dengan tantangan tiap Sato ditambah deretan pemaen berlabel pemenang Japanese Drama Academy Award, rasanya drama ini serasa dua sisi mata duitan #eh mata uang.
Tsumabuki Satoshi (Orange Days), Eita (Saikou no Rikon), Mitsushima Hikari (Woman), Emoto Tasuku, Nomura Shuhei, Aoi Yu, Nagasawa Masami (Proposal Daisakusen), Hashimoto Ai, Yoshioka Hidetaka (Dr. Koto Shinryojo) bukan aktor sembarangan di drama Jepang. Diluar Matsushima Hikari, nama-nama yang diikuti judul dramanya bercetak tebel adalah artis terbaik untuk judul termaksud. Bersama Matsusima Hikari, kelimanya boleh dibilang termasuk aktor watak, bahkan untuk Nagasawa Masami. Walaupun identik dengan peran-peran manis, Masami sempat bermain dalam drama menantang sebelumnya bersama Ueno Juri dalam Last Friend.
i6.minus.com

Ngeliat karakter dan tantangan dari masing-masing Sato, lima karakter kuat ini bisa jadi, mau ngga mau, ngga bisa dibawain secara simpel. Butuh eksplorasi akting akrobatik, terlepas akting bagus ngga selalu harus jadi psikopat. Akting natural yang pas pun bisa jadi menantang dan bagus selama ngena buat yang nonton, Kareena Kapoor lewat Ek Main Aur Ekk Tu udah nunjukin contohnya, seenggaknya buat gue)Akting aktor-aktris watak ini menjanjikan cerita menarik atau bahkan bisa jadi terlalu seru secara kesemuanya mungkin pengen nunjukin kualitas akting dan bukan harmoni. Ibarat nyanyi bareng, Lagu yang bagus kadang nyampe bukan karena semua anggotanya nyanyi bagus, tapi mereka saling ngisi, dan berbagi harmoni, kapan harus pake suara satu, siapa yang ngisi suara dua, yang mana yang berperan untuk ngatur tempo dan sebagainya. 
Dengan gaya khas jepang yang teduh, menarik disimak mengenai cara keluarga Sato, menaklukan tantangan yang penuh warna di tiap episodenya. Episode awal ini sendiri dibungkus lewat pemahaman manis bahwa hidup ibarat pertandingan gulat, yang selalu memberi pilihan untuk bangkit setelah terpukul jatuh dan membalikkan keunggulan. Lewat filosofi gulat inilah Asahi dan mpok Asuza memahami bahwa cerita manis mereka bukan todongan senapan berpeluru perak (shotgun), melainkan anugerah kehidupan.
Dari segi rating, Wakamonotachi 2014 terbilang lumayan 12%, Drama jepang laen musim ini, Great Teacher Onizuka (GTO) sendiri 9,7%. Dari segi brojolnya juga terbilang cepet sih kayak model dorama jaman 2012-2013, seenggaknya untuk episode pertama, secara mungkin Wakamonotachi 2014 nawarin nama-nama yang renyah di jagat drama Jepang sana. GTO pun penikmatnya ngga sedikit walaupun rating kurang membahana di Jepang sana.
Ngomongin soal rating, menarik dicermati klo Wakamonotachi 2014 jadi tantangan tersendiri bagi Fuji TV buat ngambil hati pemirsanya. Yups tantangan karena selama ini Fuji TV identik sama rating tinggi terutama Monday Prime Time-nya. Dan Monday Prime Time Fuji, musim tayang kemaren dapet rating 9%. NTV tampil bagus lewat  Kaesifu no Mita (24,8%) sama Hanasaki Mai ga Damattenai (16%). Episode bontot TBS Hanwaza Naoki (29,7%) malah mecahin rating episode bontot Kaesifu no Mita (40%) yaitu 42,2 %. Walopun rating keseluruhan blom secetar Hero (34%) dan Oshin (52,6%). Sekuel jadi senjata Fuji untuk nampang di hati pemirsah. Galileo 2 berhasil meraup rating 19%. Wakamonotachi 2014 juga sekuel. Yang menarik ditunggu adalah Hero 2. Tahun 2001 ratingnya 33% aja, filmnya box office pula. sekuelnya bakal jadi reuni kimataku sama keiko kitagawa setelah sebelomnya maen di Tsuki no Koibito (2010). Wlopun ngga sedikit yang kontra soal cocok nggaknya kimutaku maen kul sekarang, gue termasuk yang penasaran, Sekian coretan saya dan terima menu buka puasa.  Berikut OST Wakamonotachi versi bening eh cover