Thursday, February 20, 2014

Ngiklan Produk Madu Herbal

Hari ini saya mau ngiklan soal madu herbal, kenapa saya bilang ngiklan? Karena emang saya ngiklan dan lebih enak ngomong duluan daripada didepan bilang nggak tapi ujung-ujungnya ngiklan.
Pertama saya buka botol madu ini, yang kecium adalah aroma khas jamu, dan kuat banget. Karena penasaran saya cicipin dulu rasanya. Manis-manis pahit dikit. pas saya mau minum beneran, saya baru inget klo saya belum netesin propolisnya tiga kali, itu lho zat penyusun sarang lebah yang salah satu khasiatnya nyembuhin radang.
gambar produk-poduknya dicomot dari website

Saya sebenernya baru pengen nuangin pengalaman saya ngonsumsi madu ini dua tiga minggu setelah saya yakin bener rasanya. Tapi sepertinya rencana itu saya revisi.  Saya lantas ngikutin ritual yang ada di kardus petunjuknya. Dua sendok makan madu ditambah tiga tetes propolis sama sedikit air saya minum. Tiga bahan itu masuk ke mulut, pas mampir dilidah, saya ngerasain puait-puait manis. Sensasi baru nongol pas madu herbal ini udah meluncur di tenggorokan. Entah darimana asalnya, aroma madu herbal ini ngingetin saya sama aroma minuman kola
Sensasi anget yang saya rasain beberapa menit setelah minum  madu herbal ini jadi alesan saya kenapa akhirnya saya pengen nuangin pengalaman ini lebih cepat. Mungkin sekitar 10-15 menit madu itu saya telen, badan kerasa anget di dalem tapi semriwing di luar, badan yang rada masuk angin jadi lebih enteng. Walaupun nggak sesemriwing hari pertama, sensasi anget terutama di bagian perut masih saya rasain setelah saya minum madu ini di hari kedua, bahkan pas saya ngetik sekarang ini pun masih kerasa
4.bp.blogspot.com

Konon khasiat madu ini bukan cuma buat njaga kesehatan atau baik buat ngatasin batuk dan sariawan aja, tapi juga baik buat perawatan hepatitis, kanker, tumor dan sebagainya. Harganya sendiri untuk yang 100 ml sekitar Rp 49.000 an. Mo bilang nggak murah juga boleh
Selaen madu herbal yang saya cicip tadi, masih ada minyak oles herbal yang konon baek untuk membantu proses penyembuhan salah urat, terkilir, perut kembung, radang tenggorokan, luka operasi dan beberapa penyakit lain
Produk herbal ini juga ada yang buat anak-anak loh. Madu herbal for kids, katanya dan kononnya baik untuk masa pertumbuhan dan nguatin daya tahan tubuh (ngiklannya kerasa banget yak bujug), perbotolnya Rp. 42.900 
Saya pribadi cuma ngiklan, Walaupun madu ini udah diuji sama UGM, khasiatnya baru bisa dirasain klo nyoba sendiri, untuk inpo lanjutan bisa nginbox ke tempat yang ngeshare (saya kamsudnya), atau kunjungin websitenyah di sini 

Monday, February 3, 2014

Skema Seedorf


I don’t have to be an expert to understand about Seedorf scheme. His players flows the ball from the back to the front through accurate passing. One will tend to pass the ball to the back instead when the front man is not ready to get the ball. Unsurprisingly, their pass accuracy reaches 85%: De Jong (92%), Kaka (88%), and Honda (97%), only Montolivo playerin the middle sector whose passing reach 80%.
Not only is their attacking style, Milan defense also easy to understand. In Seedorf’s scheme, all players ought to win the ball, including Kaka and Balotelli. In the last match Pazzini even   fault opponent players five times to win the ball in the match against Torino.
Because of this scheme, Milan may surround the defense area of their opponent. Their ball possession reaches 62 % against Torino. However, they find difficulties in making goal attempt since the opponents stay on their defensive area. That’s why Milan’s goal in the previous two matches is mostly if cannot say all made in dead ball situation. Milan’s win against Verona is determined by Balotelli penalty strike after kaka get fault in the penalty area.  Meanwhile, the winning goals against Cagliari are struck by Balotelli’s free kick, and Kaka’s goal, served by Honda’s corner kick     
Milan’s performance is expected to be better by the attendance of their new players. Rami is expected to protect the defense since Milan opponents makes 32 goals from 22 matches. Essien’s arrival may strengthen Milan’s middle sector. His athleticism may good addition for this sector since the De Jong is the only player who has the same type with Essien this season 
Milan’s targets for their offense in transfer market become an interesting issue.  Adel Taarabt, Jonathan Biabinany, Luis Nani, and Pablo Armero are speedy players with good dribble, including Armero. Although his position is wing back, his speed and acceleration makes the opponents cannot chase him when he runs to make goal attempts in their defensive area.  Those targets give blue print of Seedorf scheme. Their speed and striking give attacking option from flank and second line.  In the last match, the goal attempts are made by crossing by their wide players. However, the accuracy is not good enough, from 31 attempts, only 7 that find the targets.
Seedorf has brought Milan win their two Match and draw in the last match with lack of goal in an open play. However, his achievement should be appreciated.  The addition from transfer market hopefully can bring better result for Milan in this second half of the season, 

Wednesday, January 29, 2014

Pertarungan Timpang Lakers vs. Pacers


                                                                                        

Pertarungan Lakers vs. Pacers hari ini tampaknya akan berjalan timpang.  Walaupun terkesan bombastis, tidak terlalu sulit memprediksi pertandingan kali ini,  cukup lihat fakta statistik. Sampai saat ini Pacers menjadi salah satu tim dengan rekor terbaik yaitu 34 menang dan 9 kalah. Berbeda dengan Lakers dengan 16 kali menang dan 29 kali kalah.
Melihat depth chart Pacers, statistik poin mereka cukup merata, dengan double digit diraih Solomon Hill, Lance Stephenson, Paul George, David West, dan Roy Hibbert, dengan rataan poin tertinggi dipegang oleh Paul George dengan 23,5 poin. Jangan lupakan kontribusi CJ Watson, Danny Granger dan Luis Scola. Kelebihan tim ini ada pada eksekusi yang baik, dari wilayah dua dan tiga angka. Dari sisi fisik, rata-rata, pemain Pacers juga cukup kekar dan cepat. Satu faktor yang cukup berperan dalam permainan fisik dan adu perebutan bola di paint area,  
Permainan fisik dan kecepatan pemain tim lawan adalah kelemahan mendasar Lakers musim ini. Secara statistik sebagian besar pemain Lakers adalah shooter, dengan rataan tembakan tiga angka diatas 30 persen. Artinya, Jordi Meeks, Nick Young, Weshley Johnson, bahkan Ryan Kelly akan cenderung menembak dari wilayah tiga angka atau paremeter saat mendapat umpan matang dari Kendal Marshall. Sayangnya kesempatan meraih angka dari permainan Pick and Roll seperti ini tidak selalu bagus, walaupun second chance point Lakers cukup potensial dengan adanya Jordan Hill.
Bisa ditebak dengan rata-rata fisik pemain Pacers yang kekar dan cepat Fast Break point bisa jadi sumber Pacers mendulang angka. Belum lagi gaya Pau Gasol yang cukup sering menjadi pemantul bagi pemain lain. Jika umpannya bagus, maka Pau akan mencatatkan namanya sebagai pencetak assit. Sayang umpanya sering terlepas, bukannya mencetak assist, gaya ini memberi kesempatan lawan untuk mencetak fastbreak point.


Tapi basket tidak selalu soal statistik. Lakers punya peluang mengimbangi Pacers. Selain dari tembakan tiga angka, peluang Lakers mengimbangi Pacers bisa saja dilakukan lewat permainan di Paint area. Wesley Johnson dan Jordi Meeks, bisa lebih sering menusuk, hingga peluang mendapat Free Throw dari defensive fault cukup besar.

jika ini terjadi pertandingan akan berjalan menarik, Jual beli tembakan tiga angka bisa saja terjadi. Melihat statistik Paul George, George Hill, dan Roy Hibbert punya rataan tembakan tiga angka diatas 35 persen, artinya dari tiga kesempatan, satu tembakan berpeluang menghasilkan tiga poin. Tembakan tiga angka Lakers juga tidak kalah bagus, Nick Young, Jordi Meeks, Wesley Johnson, Kendall Marshall bisa memberi kejutan. Kuncinya, tim yang mampu menguasai paint area dan memiliki akurasi lebih baik dalam tembakan tiga angka bisa saja menang. Bisa saja Pacers atau malah Lakers. 

Tuesday, January 28, 2014

Ashita, Mama Ga Inai: Adult Story from children's Perspective (English Version)

Ashida Mana (i.imgur.com/dgJtj.jpg)

Hotchpotch is my impression watching the acting of Ashida Mana’s Ashita Mama ga Inai (Pacific Rim). I can get any feeling in one pot: sadness, anger, and disappointment, perhaps only joy that left behind. Those feeling are reflected from the title “Tomorrow Mother won’t come’. As guessed, the story tells about children, children who stays in a shelter.
The story begins with the arrival of new child named Maki. She has to stay in the shelter because of her mother’s crime. Police has to investigate Maki’s since she attacks his boyfriend using an astray. Maki didn’t comfort with the shelter at the beginning. The house is dark and gloomy. The host is also grumpy. However, Maki has good roommates. Piami and Bombi welcome her warmly. In her conversation with her new frinds, Maki knows that their names just nicknames. Piami’s name is taken from her good skill playing piano. Maki is called Donki because of the ashtray incident. Donki means blunt weapon in Japanese.
Maki are not warmly welcome by all of her roommate. Post did not treat her well. Post is called by its nickname because she is found near to a post box. Post asks Maki to be more realistic. Her mother will not fetch her. Post’s words make Maki angry. Maki then say that Post is envy at her since Post never meet her mother.  Great fuss is stopped by the host snarl.
When the host asks who start the fuse, Post raises her hand. Honesty, her bravery surprises me. If I were the two, probably I just stay still, waiting for those who confess first. The host is up in arm about Post’s. His slap bleeds Post’s nose. I personally shock with what I’m watching. Child fiction shows violence. Checking the time of the show, I stop questioning. Is there any child fiction run on 10:00 P.M?
The violence however provokes my reaction. Any harsh punishment for bad treatment is unacceptable for me or at least weigh up pros and cons for some others.  The scriptwriters get what they want. Their fiction has elicited their spectators’ reactions, either pros or cons, or neutral or even commenting the pros and cons. Anyway, just for a fiction, my reaction is tacky and cheesy.        
Post is not always fierce. She could be nice to her prospective foster and Pachi, her little fellow. She shows her motherly instinct to Pachi, kindness and decisiveness. She shares the food she gets from her prospective foster parents with Pachi. When Pachi drop his food by accident, she doesn’t let Pachi take his food back.
One day, Pachi imitates Post decisiveness at school. He does not let his friend take his dirty food. However, Pachi’s does not want to listen what he says. From distance, what are the two doing is like fighting over food. Pachi is cornered when his friend’s mother and other mothers watch his son fall from his bench during the incident from distance.
Post and her friend who come later do nothing but covey apology. Outside the school yard, Post shows her real face. She kicks mothers bicycle parked outside and run before the owner chase Post and her friend.   
The story continues. Maki’s mother visits her daughter in the shelter. Meanwhile Post visit her prospective foster parents for twice. In this part, I’m pretty sure that this series is indeed not for children. Maki’s does not come to fetch her daughter, but ask her to stay because she wants to get marry.   Maki’s mother conveys this news in a warm tone. Her mother explanation arouses my emotion since I believe sentimental attachment. I believe mother loves her lover but she loves her daughter more. My emotion is heightened more watching Maki. She hugs her mother waist, cry, and beg her mother for letting her staying together with.   I am only able to take my deep breath watching this scene.
In another place, Post fails to get foster parent, not because her real nature is revealed, but her prospective foster mother. She is mentally ill because she does not have child for years. Post’s prospective foster mother forces her to be her puppet. The woman chases and corners her to a room because Post disobeys the order. Fortunately, his prospective father returns from his office and help Post. Because of the incident, his foster father brings Post back to the shelter and apologizes to Post and the host
At shelter, Post surprise with Maki’s kindness. Maki’s roommate then tells Post what happened to Maki. Maki expects her kindness could bring her home.
Post once again ask Maki to be more realistic. Maki’s mother will not bring her back. Post asks Maki to bring her to Maki’s house to prove his word. At least until the first episode, Post’s words are correct. From the house yard, Maki’s mother sounds happy chatting with her new husband.  Maki just cries and runback to the shelter knowing what she just listens to.  
Post just let her crying without cheering her up. Post just tell that both of them are the same. However, Maki channels her emotion by crying while Post by getting angry. In her anger, Post sheds her tears and says that happiness is nonsense. Her deep disappointment is reflected from her words   But there is no “abandon parents’”, “Because of that I thrown my name”, and “Because that is the only one remaining from my parents.” Seemingly impossible, the words are uttered by nine-years-old children in the real world.  The story ends by the host’s punishment because the children come late to the shelter.
Japanese drama usually has one story in each episode. There are always moral lessons in the end of each episode. However, I did not get any because such moral lessons are sometimes sentimental, beautiful in its time. Instead of moral lesson, Ashida Mana’s acting attracts me more. For nine-years-old girl her acting is superb. She plays apathetic girl brilliantly, antipathy inside but sweet outside. The message is not only conveyed by her word, but also gesture and eyesight. Her eyebrows and eyesight say ‘don’t care’ without word. Although she acts older than her real age, Ashida Mana does not lose her innocence. Because of her brilliant acting, Mana is awarded  Japanese Drama academy Award, an award for movie and Television Drama Academy Award, an award for television held every semester
And if I should tell my opinion about the moral lesson of the story, maybe I will pick these words ‘life is not as beautiful as rainbow at the end of raining.’  

Monday, January 20, 2014

Abu-abu



Doctor X: Daimon Michiko termasuk salah satu serial jepang favorit saya. Serial tersebut memberikan saya wawasan tentang dunia medis populer.  Misal tentang penggunaan es batu dan vodka untuk menurunkan suhu tubuh pengelola klub malam. Penjelasan ilmiahnya cukup sederhana, alkohol dapat menurunkan suhu karena mudah menguap, dan semakin tinggi kadar alkohol semakin cepat pula penguapannya. Di klub tersebut minuman beralkohol dengan kadar alkohol tertinggi adalah vodka, yaitu 35-50%. Lewat subtitelnya saya baru tahu kalau istilah kerennya adalah Heat of vaporazion.
gelas-gelas vodka (img.ehowcdn.com)

Selain memberikan wawasan medis, karakter Daimon Michiko yang unik jadi alasan mengapa serial ini mencapai rating dua digit.  Daimon Michiko digambarkan sebagai dokter paruh waktu dengan rekam jejak sempurna, nyaris tidak pernah gagal menangani pasien. Walaupun terkesan kurang manusiawi, Kesempurnaan Michiko ini yang menjadi kekuatan cerita serial ini.
Hasil kerja Michiko yang memuaskan memiliki harga tersendiri, seperti pepatah jawa “ana rega ana rupa.” Manajer Michiko, Kanbara Akiralah yang mengurusi hitung-hitungan ini. Biasanya jasa medis ini ditagihkan pada kepala divisi rumah sakit. Walaupun terkadang Michiko tanpa sungkan menerima ucapan terima kasih pada pasien VIP.  Jasa medis Michiko konon digunakan untuk biaya manajemen dan pelatihan oleh Kanbara. 
Kanbara Akira (f.ptcdn.info)

Walaupun hasil kerjanya luar biasa, keahlian Michiko jarang mendapat publisitas, maklum tanpa publisitas jadi salah satu klausul kontrak Michiko, selain batasan jam kerja, biaya lembur, serta tidak bersedia mengikuti acara seremonial rumah sakit, seperti menyambut tamu VIP. Michiko juga dikenal tidak bersedia berkumpul dengan kolega di luar jam kerja, misal untuk minum bersama atau malah bermain golf.  Bahkan Michiko lebih memilih menangani pasien daripada menjadi pembicara simposium.
Michiko sendiri juga dikenal blak-blakan dan cenderung tidak ramah. Berbeda jauh dari sosok dokter ideal, ramah dan tanpa pamrih. Tapi disinilah menariknya sosok Michiko. Walaupun terkesan arogan, sosoknya justru digambarkan lebih jujur dari kolega-koleganya
Yonekura Ryoko (i771.photobucket.com)

Peran abu-abu Yonekura Ryoko sebagai Daimon Michiko inilah yang mengantarnya meraih penghargaan sebagai aktris terbaik dalam Television Academy Award, karakter Michiko ini makin kuat karena didukung karakter kolega-kolega Michiko yang bertolak belakang dengannya. Disaat Michiko digambarkan sebagai tokoh jahat, kolega Michiko juga ditampilkan sama jahat, kalau tidak bisa dibilang lebih buruk. Kolega Michiko memang ditampilkan santun dan kerap menolak ucapan terima kasih dihadapan umum, Namun faktanya mereka kerap mengomentari pasien dibelakang serta menerima ucapan terima kasih dibawah meja. Sifat Michiko yang tidak suka publisitas juga kerap dimanfaatkan koleganya. Mereka tidak jarang mengakui hasil kerja keras Michiko sebagai hasil kerjanya. Dan Michiko tidak mempermasalahkan kelakuan mereka, walaupun Michiko digambarkan sempat kesal karena solusi medisnya pernah diserobot salah satu koleganya
Karakter Michiko yang kuat serta rating yang cukup memikat membuat serial ini dilanjutkan pada musim kedua. Rata-rata ratingnya juga tidak bisa dipandang sebelah mata 22,8%, lebih tinggi dari musim pertamanya 19,1%
rekan satu manajemen Michiko, Jonouchi Hiromi (images4.wikia.nocookie.net)  

Pada musim pertama, tiap episodenya lebih sering mengekplorasi konflik antara Michiko dan kolega terkait  keahlian Michiko dan klausul kontraknya yang dianggap nyeleneh. Fokus cerita musim kedua sendiri bukan lagi soal klausul, namun soal rivalitas kandidat direktur rumah sakit universitas. Awalnya Michiko dipekerjakan oleh salah satu kepala divisi rumah sakit untuk meningkatkan pesentase keberhasilan penanganan pasien di divisinya. Selain itu, Michiko diminta untuk membatasi jadwal operasi dan hanya mengoperasi pasien sesuai permintaan kepala divisi. Hasil kerjanya yang ekslusif ini kelak ada diakui sebagai hasil kerja keras divisi dan otomatis meningkatkan elektabilitas kepala divisi sebagai kandidat direktur. Karena tidak suka dijadikan alat oleh kepala divisi, Michiko protes dan akhirnya dipecat. Peluang ini digunakan oleh lawan. Berbeda dengan divisi sebelumnya, di divisi baru ini, Michiko diberi kebebasan melakukan hobinya, mengoperasi pasien. Walaupun tetap dijadikan alat pengatrol elektabilitas, Michiko tidak peduli, karena dia lebih sibuk menangani pasien daripada intrik politik rumah sakit.
  Emi Takei "Senryokugai Sosakan" (4.bp.blogspot.com) 


Secara pribadi saya lebih suka cerita musim pertama dibanding sekuelnya. Ceritanya lebih beragam karena setiap poin pada klausul kontrak Michiko bisa dijadikan cerita tersendiri. Pada musim kedua, walaupun ceritanya juga beragam, muara cerita ini tetap pada intrik antar personal divisi dalam mengejar posisi sebagai direktur rumah sakit. Keberhasilan Doctor X musim kedua ini, sepertinya bisa saja ditiru oleh serial profesi jepang lain untuk mendulang rating. Walaupun bukan drama medis, formula rivalitas kandidat bisa diterapkan pada drama profesi lain, termasuk drama polisi misalnya. Kecenderungan ini terlihat dalam drama komedi polisi Senryokugai Sosakan. Sepertinya keberhasilan detektif dalam menangani kasus digunakan atasan mereka untuk mengatrol jabatan, sepertinya. Pandangan saya ini masih bersifat perkiraan, maklum drama baru tersebut baru tayang untuk episode pertama.  Itulah sekelumit ocehan saya tentang serial Daimon Michiko, semoga bermanfaat

Friday, December 20, 2013

Lakers dan Point Guard


Gaya permainan Lakers saat ini tidak jauh dari prediksi pengamat NBA di awal musim. Mereka bermain sesuai gaya Mike D’antoni yang mengandalkan permainan cepat dengan umpan-umpan langsung dan diakhiri dengan sentuhan tembakan dua atau tiga angka. Gaya ini terlihat dari chart Lakers musim ini yang mengandalkan Shawne Williams, Weshley Johnson, Nick Young, Xavier Henry, Jordie Meeks, Steve Blake, Jordan Farmar, serta Steve Nash. Mereka semua dikenal dengan tembakan tiga angka diatas 30 persen. Jangan lupakan juga Kobe Bryant yang juga cukup piawai mengeksekusi tembakan tiga angka.
Johnson, Farmar, Meeks, Hill, dan Henry

Kunci permainan cepat D’antoni ada pada point guard lincah dan visioner yang bukan hanya mampu memberikan umpan cepat dan akurat tetapi juga mampu menusuk ke paint area untuk mencetak angka atau menarik guard lawan sehingga membuka ruang bagi para shooter untuk menembak (pick and roll play). Kriteria ini dimiliki oleh ketiga guard Lakers saat ini, Steve Nash, Steve Blake, dan Jordan Farmar.
Saat masih bermain untuk Phoenix Sun, Nash terkenal dengan umpan-umpan ajaibnya. Rataan assistnya mencapai 11 umpan per pertandingan. Alasan inilah yang membuat Lakers menariknya dari Phoenix beberapa musim lalu. Namun kebugaran fisik yang menurun membuat Nash belum mampu menunjukan potensi terbaiknya di Lakers.
pick and roll ala Steve Nash

Faktor cedera Nash justru menjadi berkah tersendiri bagi Steve Blake. Blake kini menjelma menjadi pencetak assist produktif saat ini,  dengan rata-rata delapan hingga sebelas assist per pertandingan. Umpan cepatnya lebih banyak berbuah assist saat ini karena pemain lain memiliki gaya bermain lebih praktis, begitu menerima umpan mereka langsung menembak atau mengoperkan bola terlebih dulu pada pemain yang memiliki posisi tembak lebih terbuka.
Permainan Blake terjaga dengan baik, karena Jordan Farmar mampu menjadi deputi yang baik. Saat Blake harus mengisi tenaga yang terkuras karena permainan cepat, ketajaman umpan Lakers tidak berkurang. Farmar tidak hanya piawai mengirim umpan cepat tapi juga memberi assist di paint area pada Jordan Hill, terkadang Weshley Johnson, atau malah Jordie Meeks yang sekarang kerap melakukan lay up bahkan slam dunk.
Slam Dunks

Permainan cepat Lakers berpengaruh pada menurunnya poin Pau Gasol per pertandingan musim ini. Gasol sendiri bukan tipe forward yang mengandalkan kekuatan fisik dan tinggi tubuh untuk mencetak angka. Poin Gasol di paint area kebanyakan tercipta dari kejeliannya mengecoh forward lawan yang biasanya berpostur lebih kokoh dari Gasol, dan untuk mengecoh diperlukan waktu tiga hingga lima detik di bawah jaring. Gaya ini dianggap sedikit membuang waktu  pada sistem permainan D’antoni. Sekarang Gasol lebih banyak menciptakan peluang lewat tembakan perimeter, dan akurasinya tidak selalu bagus. Dan kalaupun berusaha mencetak angka dengan gayanya, usaha Gasol kerap tidak berhasil karena Gasol hanya punya waktu satu sampai tiga detik untuk menembak atau mengoper bola pada pemain lain. Saat memilih mengoper, jika tidak langsung diberikan pada pemain lain, umpan Gasol terkadang dapat dibaca lawan, dan akhirnya menjadi turn over. 
Berkebalikan dengan Gasol, potensi Jordan Hill justru berkembang. Hill merupakan tipe pemain yang mencetak angka setelah mendapatkan offensive rebound. Potensi offensive rebound Lakers sendiri terbilang cukup besar mengingat Lakers bermain dengan mengandalkan tembakan dua atau tiga angka.
Jordan Hill

Sistem permainan D’antoni mulai buyar ketika Farmar mulai cedera. Dengan waktu permainan yang lebih banyak dan tempo yang cepat, stamina Blake jelas terkuras, dan akhirnya berpengaruh pada penampilan Lakers. Henry sendiri kurang maksimal menjalankan perannya sebagai point guard karena posisi aslinya adalah swingman. Permainan Lakers makin menurun saat Blake juga cedera. Bryant yang baru kembali dari cedera tidak mampu membawa timnya meraih kemenangan di dua pertandingan awal bersama Lakers mengingat kebugarannya belum seratus persen pulih.
Bryant baru berhasil membawa Lakers meraih kemenangan pada pertandingan ketiganya. Itupun setelah D’antoni mulai mengubah sistem permainannya menjadi lebih lambat, dengan lebih banyak umpan antar pemain, dengan Bryant sebagai point guard-nya.
Efek dari gaya permainan ini tembakan tiga angka Lakers jauh menurun. Poin Gasol juga jauh meningkat, dari tiga belas poin per pertandingan menjadi hampir mencapai dua puluh poin, itupun dengan usaha tembakan yang lebih sering gagal masuk. Meningkatnya poin Gasol setali tiga uang dengan Kobe Bryant. Pada dua pertandingan terakhir Bryant mencetak 21 poin untuk Lakers. Sayang walaupun Bryant kerap menjadi mencetak angka terbanyak, keuletan dan kengototan Bryant dalam mencetak poin-poin sulit belum sepenuhnya terlihat.
duo Steve

Yang menarik dicermati sekarang adalah bagaimana permainan Lakers setelah Bryant dikabarkan harus menepi selama enam minggu akibat cedera. Apakah mereka akan memaksimalkan potensi Meeks atau Henry sebagai point guard atau malah mencari pemain baru? Beberapa minggu belakangan santer diberitakan bahwa Lakers akan menukar Gasol dengan Iman Shumpert dari New York Knick, guard cepat yang cocok dengan gaya D’antoni, tapi isu tersebut sempat mereda setelah Gasol kembali menunjukan performa yang meningkat.  Apakah sekarang isu ini kembali menghangat atau justru malah Luol Deng dari Chicago Bulls yang mendarat ke Staples Center?
Nggak tahu juga, tapi skenario kedatangan pemain baru ini akan berpengaruh pada gaya permainan Lakers. Jika Shumpert jadi ditukar dengan Gasol maka permainan Lakers akan lebih tajam di paint area, sumber mendulang poin yang kurang dieksplorasi Lakers musim ini, mengingat permainan Shrumpert cenderung mengandalkan drive dan slam dunk. Tembakan tiga angka Shumpert juga terbilang bagus, diatas 30 persen, cocok dengan gaya D’antoni. Dan jika Shumpert masuk maka posisi Gasol kemungkinan akan menjadi milik Shawne Williams atau Wesley Johnson.
Iman Shrumpert- Luol Deng

Lain lagi jika Luol Deng yang masuk. Defense Lakers akan lebih kokoh mengingat Deng adalah salah satu perimeter defensive player terbaik NBA saat ini, aset langka bagi Lakers yang sekarang lebih berorientasi menyerang, dan boleh dibilang hanya Weshley Johnson pemain Lakers yang memiliki kemampuan bertahan menonjol lewat blok-bloknya. Dari sisi mencetak angka, boleh dibilang Deng lebih unggul secara statistik dari Shrumpert. Deng memiliki rataan 16 poin per pertandingan sedang Shrumpet berkisar antara delapan hingga Sembilan poin. Hanya saja, Shumpert berpotensi sebagai point guard, walaupun posisi alaminya adalah swingman. Dari sisi aturan salary cap Shumpert juga dipandang jauh lebih masuk akal dibandingkan Luol Deng yang memiliki gaji 13,3 juta dolar
Kaman- Gasol

Dan kalau boleh memilih, saya secara pribadi justru melihat bahwa pemain yang berpeluang besar untuk ditukar adalah Chris Kaman. Pasalnya, dalam beberapa pertandingan terakhir pasca pulih dari cedera, Kaman justru jarang dimainkan. Posisinya sebagai center cadangan justru diambil alih oleh Robert Sacre atau Jordan Hill. Sacre boleh dibilang memiliki kemampuan menjaga pemain lebih menonjol dibanding Kaman atau bahkan Jordan Hill.
Ternyata berdasarkankan informasi terbaru, bukan Shumpert atau Luol Deng yang mendarat di Staples Center melainkan Kendall Marshal. Melihat posisinya sebagai point guard, besar kemungkinan Marshal akan diplot menjadi pengatur serangan Lakers seperti juga trio point guard Lakers yang sekarang sedang cedera. Dari segi statistik kemampuan assist dan tembakan tiga angkanya sesuai dengan pola permainan D'antoni dan yang lebih menarik lagi Marshal merupakan free agent sempat bermain di Phoneix Suns musim lalu, tim sampai saat ini masih bermain dengan cetak biru pick and roll, sistem yang ditanamkan D'antoni sejak melatih tim dari tahun 2003 hingga 2008. Terlepas ada atau tidaknya pemain baru yang nantinya akan bergabung lagi, Marshal 
diharapkan mampu meningkatkan penampilan Lakers yang saat ini memiliki rekor yang bisa dibilang kurang menjanjikan dengan 12 kali menang dan 13 kali kalah. 


Saturday, October 19, 2013

Pemantik Pelangi

Goblin <http://www.entertainmentearth.com>

Badan kurus, kulit coklat, mata hijau pucat, berambut ikal panjang terikat. Larinya cepat, secepat kancil yang nyaris tertangkap Pak Tani dalam dongeng Si Kancil.
Seperti juga Si Kancil, Dru memang berlari, tapi bukan karena mencuri. Ia justru berlari menghindari kejaran para para pemburu berbadan kekar. Pemburu yang ingin merebut pemantik dari tangan Dru. Iya, pemantik akan menemukan pemilik baru hanya dengan dua cara, direbut paksa atau diambil tanpa sepengetahuan pemilik sebelumnya. Pemantik ini memang bukan pemantik biasa. Pemantik ini dapat meminjam dan memedarkan tujuh warna, warna pelangi 
Saat ini, Dru tepat berada di ujung lorong berpenerang deretan neon. Badan dan tangan kanannya nyaris condong ke sisi luar. Sementara kakinya ada di dua sisi, kaki kanan sudah berada di luar, sementara satunya lagi masih tertinggal di sisi dalam lorong. Hanya beberapa sentimeter saja, kaki kirinya nyaris berhasil digapai tangan pemburu yang jatuh tengkurap akibat kehabisan nafas.
Untung saja, dengan sigap, Dru menjentikan pemantik untuk menghisap semua warna yang ada dalam lorong, begitu kaki kirinya nyaris tersentuh bonggol jari Mahisa.   
Dru akhirnya lolos dari sergapan para pemburu, walaupun mungkin hanya sementara. Lorong yang mendadak gelap setidaknya sedikit membantu. Badan kekar kelelahan Mahisa terbukti menjadi batu sandungan.  Beberapa pemburu lain yang serempak mengekor beberapa langkah di belakang Mahisa terjungkal oleh badan Mahisa yang besar. Umpatan para pemburu memberi sedikit tambahan waktu lagi bagi Dru untuk bernafas.

Fiuhhh, nyaris aja, coba terlambat beberapa langkah, bisa ditangkep rame-rame aku sama mereka
...
Dru dapat menarik nafas lega. Keputusannya memasuki lorong, tepat seperti yang ia rencanakan. Sayang Dru lupa memikirkan rencana setelah ia berhasil keluar dari lorong panjang. Kalau Dru menyalakan pemantiknya lagi, itu sama saja mengundang para pemburu itu untuk kembali menangkapnya. Kalau tak ia nyalakan, Dru sama sekali tidak bisa melihat sisi luar lorong yang kini sama gelapnya dengan sisi dalam.  

“Kayaknya lebih aman deh klo aku ngerangkak ke samping. Biasanya klo di luar lorong begini, samping kiri atau kanannya itu kan tanah miring, paling nggak bisa untuk gulingan ke bawah. Yah seenggaknya dicoba dulu deh” batin Dru.

Sisi kiri luar lorong memang landai seperti yang Dru pikirkan. Tapi ia tidak menduga kalau permukaan landai tersebut ternyata dilapisi kerikil. Ukurannya yang kecil dan ngga beraturan justru bikin sekujur badan Dru lecet saat harus berguling turun.
Eh ad…
Hampir saja keberadaan Dru diketahui pemburu, kalau saja ia nggak refleks menutup mulutnya sesaat sebelum kata uh keluar
.
Bener-bener kayak baca novel petualangan fantasi, ngebacanya sih seru, tapi ngalamin sendiri makasih deh.
Sesampainya dibawah, Dru memutuskan untuk berjalan sebentar, dipandu cahaya kuning bohlam yang terpasang diatas tiang-tiang besi. Nggak cukup terang sih emang, tapi cukuplah  untuk memandu Dru berjalan beberapa blok. Setelah dirasa cukup jauh, Dru mulai merasa cukup berani untuk menyalakan pemantik.

Kayaknya warna violet cukup ngebantu deh malem-malem begini. Cuma aku harus ati-ati nih, kalau lebih dari 2 menit bisa-bisa mereka nemuin aku lagi. 

Saat menjentikan pemantiknya enam kali, Dru mengingat-ingat lagi waktu dua menit yang mengubah hidupnya itu. 
Yups dua menit. Hanya dua menit kehidupan Dru berubah seketika. Dru tadinya adalah anak berusia 11 tahun biasa. Suka maen komputer sama maen-maen bareng temen-temen sekampungnya. Seneng-seneng kata Dru dan temen-temen seumurnya. Tapi jahil kata orang-orang yang lebih dewasa. Nyolong mangga, nyambitin ikan di empang, sampe ngagetin orang lewat pake petasan. Terserah sih mau milih istilah yang mana, maen-maen boleh jail juga boleh. Yang jelas petualangan Dru bermula dari niat yang sama, jail alias  maen-maen.
Awalnya Dru, Bathara, dan Sora cuma bosan dengan permainan yang itu-itu aja. Mereka pengen permainan baru yang seru. Tiba-tiba Dru teringat pemantik pamannya. Dru kemudian bercerita klo pamannya punya pemantik ajaib. Pemantik yang bisa menghasilkan tujuh warna pelangi. Jangankan anak-anak, orang dewasa sih juga takjub ngeliat yang beginian.
Tapi cerita tinggal cerita, siapa juga temen yang bakal percaya klo ngga ada buktinya. Niat Dru sih cuma mau minjem sebentar. Dru Cuma pengen ngebuktiin klo omongannya itu bener. Tapi dia tahu pamannya ngga bakal ngasih izin klo niatnya buat pamer begitu.  Dru pun minjem geretan sewaktu pamannya tertidur kecapekan sehabis dari luar kota. Walaupun niatnya cuma minjem sebentar, Dru udah melanggar aturan pertama, ngambil pemantik tanpa izin pemilik sebelumnya. Mau nggak mau Dru jadi pemilik pemantik berikutnya.
Bukan cuma itu, Dru juga melanggar peraturan kedua. Bersama temen-temennya, Dru udah menyalakan pemantik ini selama dua menit lebih sedikit dalam satu waktu. Awalnya Dru nggak percaya cerita pamannya itu. Masak sih cuma gara-gara pemantik gitu doang, pemilik pemantik dikejar-kejar sama penjahat buangan negeri pelangi. Yups pemilik dan bukan temen-teman si pemilik. Awalnya Dru sih percaya aja cerita pengantar tidur ini. Maklum pamannya biasa nyeritain cerita ini klo si kecil Dru belom bisa tidur 5-6 tahun lalu. Tapi sekarang Dru sudah cukup dewasa. Logikanya udah mulai ngerti mana khayalan dan mana kenyataan. Dan Dru memutuskan untuk percaya pilihan nomor dua.  Ceritanya nggak masuk akal. Eh klo emang nggak masuk akal, kenapa Dru harus percaya pemantik pelangi ya? Logikanya kan ngga ada pemantik yang bisa ngeluarin cahaya tujuh warna begitu? Jawabannya gampang, Dru pernah liat pemantik itu mengeluarkan tujuh warna, bukan cuma dia sendiri, tapi bareng pamannya, titik.
Dru inget banget kejadian dua menit itu. Dru, Bathara, dan Sora awalnya cuma ingin bermain sesuai rencana semula, ngeliat pemantik berganti cahaya sesuai urutan warna pelangi: merah, jingga, kuning, hijau, biru, nila, dan ungu. Tapi rencana mereka berubah saat mereka tahu fungsi lain pemantik. Cahaya-cahaya itu bukan cuma bisa dilihat rupanya, bahkan dipegang dan diletakan ditelapak tangan. Mereka bertiga pun asyik bermain bermain tebak warna. Kira-kira apa warna cahaya yang ada di kepalan Sora misalnya, jika tebakan betul, maka penebak ganti memberi tebakan dan kalau jawaban salah, pemberi tebakan bisa memberi tebakan lebih lama. Ibarat menemukan mainan baru, mereka bertiga sampai lupa waktu.
Dru sedang memberi tebakan, saat semacam lubang ungu terbuka di udara. Ada semacam tarikan kuat dari dalam lubang yang menjambak kucir Dru dan membawanya masuk ke dalam.
Dru berusaha melawan tarikan, Namun semakin dilawan, tarikan justru makin kuat. Bathara dan Sora juga ikut membantu. Mereka berdua berusaha menarik kaki dan tangan Dru
Eh ayo tarik, jangan sampe lepas Sora
Ini juga udah ditarik Tara! Dru kamu juga jangan diem aja, ikut dorong badan kamu sendiri keluar apa gimana gitu kek
Ini juga udah begitu, klo aku uda bisa keluar aku ngga perlu minta tolong
“Eh aduh duh tuh kaki jangan ditarik-tarik gitu, sakit tau!” protes Dru pada Sora
Klo ngga ditarik gimana bisa kel…
Dari pandang mata Dru, leher Sora tampak tercekat. Kata uar seperti tertinggal di ujung leher atau setidaknya di ujung lidah. Tapi apa yang dilihat Dru ngga sepenuhnya benar. Dru bukannya melihat leher Sora tercekat, tapi dirinya sudah buru-buru terhisap, terhisap ruang hampa. Dru hanya bisa melayang, dan pingsan
Saat Sadar, Dru sudah berada di dalam dimensi antara. Ruang penghubung antara Bumi dan Negeri pelangi. Sebuah dimensi yang terlupakan. Dimensi tempat para pengacau negeri pelangi dicampakkan.
Dimensi gelap dengan banyak gua dan lorong, dengan penerang seadanya. Suasana yang membuat para pengacau makin merasa terkucilkan. Mereka akan tetap berada disana kecuali pemantik dijentikan diatas waktu yang ditentukan, Mereka berharap dapat mengambil pemantik pelangi agar bisa kembali ke negeri Peri Iris itu, berharap agar mereka dapat membalas perlakuan peri iris pada mereka.
...
Kisah Dru dalam lorong panjang sepertinya tak perlu diceritakan ulang ...