Saturday, May 3, 2014

Like Father, Like Son: Rasa Kekeluargaan dalam Cerita Putra yang Tertukar

wikimedia.org

Menonton film keluarga selalu membawa kesan tersendiri. Kalau bukan sekeranjang tisu, minimal kita bisa membawa seulas senyum simpul dari cerita seperti ini, seperti pada film jepang Like Father, Like Son (2013). Film ini pada dasarnya bercerita tentang putra yang ditukar. Sebuah tema yang boleh dibilang teramat jamak di negeri Indonesia Raya saya ini  
...
Kita sendiri bisa mengecek seberapa populer cerita ini di layar kaca.  Jika kita mengetik frasa switched at birth pada situs parameter film atau acara televisi, maka setidaknya akan muncul 31 judul dengan tema yang dalam bahasa inggris dikenal dengan nama changeling ini. Saya pribadi kurang begitu familiar dengan cerita anak yang tertukar, dari 31 judul yang nangkring disana, saya paling rada ngeh  dengan Autumn in My Heart,  drakula (baca:drakor) mpok demenan saya Song Hye-kyo, yang konon sempat diadaptasi oleh televisi Filipina dengan judul sama, dan dimainkan oleh mpok demenan saya yang lain Marian Rivera.
...
Like Father, Like Son sendiri bercerita tentang Keita Nonomiya yang tertukar dengan Ryusei Saiki. Tertukarnya Keita sendiri baru diketahui saat Keita akan masuk Sekolah Dasar, saat dilakukan tes kesehatan. Singkatnya, pihak rumah sakit tempat Keita dilahirkan kemudian melakukan pelacakan terhadap orang tua kandung Keita. Dari hasil pencarian pihak rumah sakit, Keita diketahui merupakan putra keluarga Saiki. Yudai Saiki jika tidak salah ada seorang pemilik toko perkakas dan Yukari Saiki adalah karyawan toko bento.
Karena kedua orang tua masing-masing telah diketahui, Keita dan Ryusei segera dikembalikan ke orang tua masing-masing. Sebelum benar-benar dikembalikan, Keita dan Ryusei diajak membiasakan diri dengan tinggal beberapa waktu di rumah orang tuanya masing-masing. Untuk film berdurasi dua jam, dengan tiga puluh menit awal yang hambar, menurut saya, bagian ini menjadi oase yang menarik, mengingat Keita dan Ryusei dibesarkan dalam dua kultur yang berbeda.
...
Keita dibesarkan oleh keluarga yang mapan, dengan tata krama yang kuat namun cenderung cair. Pola asuh ini menjadikan Keita sebagai sosok yang santun, lembut, dan periang. Sedang Ryusei tinggal dalam keluarga pekerja keras, ekspresif, yang dipenuhi canda tawa.
Dalam keluarga barunya, Keita merasakan bagaimana rasanya tinggal dalam keluarga yang penuh keakraban. Ditempat lain, Ryusei mendapatkan kelimpahan kelembutan khas Keita dari Midori Nonomiya, serta sopan santun dan ketegasan khas Ryota Nonomiya. Sayangnya, karena tinggal di apartemen Ryusei tidak bisa seekspresif saat tinggal bersama keluarga Saiki, Lingkungan yang dingin inilah yang membuat Ryusei pulang ke rumah keluarga Saiki. 
...
Sifat Ryota yang dingin sedikit mencair semenjak Ryota ditugaskan ke daerah yang lebih hijau. Di wilayah penuh pepohonan itulah Ryota mendapat petuah dari penjaga hutan buatan. Petuah khas cerita jepang yang kuat akan nilai keluhuran. Penjaga tersebut menceritakan bahwa butuh beberapa tahun agar mahluk hidup dapat berkembang teduh disana. Dan seperti kebanyakan cerita jepang, petuah mengubah jalan cerita. Ryota menjadi sosok yang dekat dan bersahabat dengan putranya, bermain dan mendirikan kemah dalam rumah.
...
Kekakuan Ryota makin mencair saat keluarga kecil Nonomiya berkumpul dalam kemah. Saat berada diluar kemah, Ryota menyaksikan foto-foto dirinya yang diambil Keita, baik secara sengaja ataupun sembunyi-sembunyi. Ekspresi natural yang diabadikan Keita, mengundang saya mengambil tisu
...
Saya berharap kejutan-kejutan kecil dari film ini sebenarnya, maklum film ini mendapat apresiasi dalam berbagai festival film termasuk Cannes. Walaupun tidak selalu kontroversial, biasanya film festival membawa kesederhanaan atau sudut pandang baru misalnya.
...
Terlepas dari kata festival, daya tarik film ini, buat saya, ada pada tiga nama favorit saya: Fukuyama Masaharu, Ono Machiko, dan Maki Yoko. Sebelum ini, sosok Masaharu identik dengan professor eksentrik dan flamboyan dalam cerita detektif fiksi ilmiah Galileo, aktingnya dalam Beauty or the Beast bersama Nanako Matsushima, juga patut diperbincangkan. Walaupun tidak luar biasa, menjadi karakter penyeimbang sosok produser yang kuat dan perfeksionis patut diapresiasi. Hanya saja dalam film ini, Fukuyama Masaharu bermain sebagai karakter yang irit, aktingnya tampak dibangun natural, jadi kita tidak akan diajak untuk melihat ekspresi mikro seperti yang dihadirkan para aktris cilik dalam Ashita Mama Ga Inai.
...
Ono Machiko dan Maki Yoko bukan kali ini saja bermain dalam satu layar. Dalam Saiko No Rikon, Ono Machiko bermain sebagai karakter yang slebor, spontan, periang, dan disukai banyak orang. Khas komedi romantis drakula. Jika dalam drakula sosok ini biasanya primadona tokoh utama, dalam Saiko No Rikon justru jadi antitesis, tidak heran Ono Machiko diganjar peran pembantu terbaik dalam serial ini. Berbeda dengan Saiko No Rikon, kali ini, Ono Machiko tampil lebih melankolis dengan aksen ceria saat bersama Keita.  Maki Yoko yang pada cerita Saiko No Rikon cenderung pasif, pendiam, dan nrimo, dan pada episode spesialnya berkembang jadi lebih tajam saat sesekali berbicara, dalam film ini tampak berakting lebih dinamis dan kritis di hadapan sesama orang dewasa, dan penjadi sosok pengayom bagi putra putrinya. 
...

Cerita yang mengalir perlahan ini memang tidak dibubuhi akhir bahagia ala dongeng korea, namun penutupan yang pas justru membuat cerita ini jadi berkesan manis dan sederhana 

2 comments: